PELUH BERSAMA KENANGAN (By Amulet Goth)


Aku yakin aku sedang menangis dalam tidur. Malam itu, aku hanya mendengar beberapa pertengkaran kecil di ruang sebelah. Meski aku tahu siapa itu, tapi aku mencoba untuk melupakannya.

Matahari terbit, cahayanya yang masuk menyilaukan kamarku, membuatku selalu ingin tetap di kasur yang empuk. Buku yang terletak di mejaku mengingatkanku akan ulangan hari ini. Aku langsung bergegas mengangkat langkah kakiku yang berat. Aku hanya membolak-balikan halaman buku itu karena yakin sudah membaca semuanya. Aku siap. "Nathali, ayo mandi!! Abangmu sudah bersiap-siap, nanti kamu telat!" Aku bergeas menyusuri kaki-kaki tangga. Bermenit-menit kuhabiskan di kamar mandi, lalu memakai seragam, sarapan dan pergi! Oh ya, aku lupa sesuatu. Kamus, bukan. Kalkulator, bukan. Cemilan, bukan. Nah, aku harus permisi sama sesuatu dulu. "Bye bye. Kita main lagi saat aku pulang sekolah, oke!" Ya, walau aku tidak mengerti apa yang dipikirkannya, aku tahu dia menyukainya.

Kenalkan, dia anjingku! Namanya Pitbull. Meskipun tidak ada campuran darah pitbull di dalamnya, dia hanya anjing kampung biasa. Tapi dia galak, suka menggigit, dan manis. Pitbull tahu segala apa kegundahanku karena aku lebih sering berbicara sendiri dengannya dibandingkan dengan keluargaku. Karena... "Hah! Sudah hampir telat!" Aku tersadar, lalu bergegas ke sekolah.

Hal yang paling menyenangkan di sekolah adalah saat pagi hari, saat mengerjakan soal, dan saat pulang. Aku suka sekolah. Bukan menyombongkan diri, tapi aku termasuk murid berprestasi di sini. Bukan maksud menyombongkan diri. Ini kenyataan. Aku suka hidupku. Aku cantik, pintar, keluargaku berkecukupan, aku rasa, aku adalah orang paling beruntung di dunia ini. Semuanya begitu sempurna.

"Kan sudah aku bilang, jangan pulang malam-malam lagi!" Terdengar suara dari ruang keluarga. "Itu bukan urusanmu! Aku hanya keluar malam karena ada pekerjaan!!" Aku mengintip dari balik pintu dan mendapati mama dan papku sedang bertengkar. Tanpa kusadari, air mata telah mengalir deras di pipiku. Lalu, Pitbull datang dan menemaniku untuk menangis. Rautnya sedih dan tak bersemangat. "Baiklah. Ayo ke kamar." Aku mengajaknya ke kamar untuk menceritakan apa yang barusan terjadi. Abangku belum pulang dari lesnya, jadi aku tidak punya teman untuk bercerita di rumah.

"Pitbull, kau dengar, kan? Papa dan mama barusan bertengkar." Dia hanya menunduk.
"Setiap kata yang dikeluarkan mereka, membuat air mataku jatuh." Sekali lagi dia hanya menunduk.
"Tapi yang membuatku kembali ceria adalah kamu." Dia mengangkat kepalanya, lalu menjilati air mata di pipiku.
"Hahaha. Geli. Berhentilah."
Terima kasih. Aku kembali ceria. Aku sudah berjanji agar masalah ini tidak merusak kepribadianku.

Abangku sudah pulang dan aku menceritakan semuanya kepadanya. Dia mengerti dan menyuruhku untuk tidak ikut campur. Dia sepertinya sudah semakin dewasa. Aku bangga mempunyai saudara sepertinya.
"Lebih baik, kamu nggak usah pikirkan masalah orang dewasa."
"Kenapa? Aku 'kan hanya ingin papa dan mama akur kembali."
"Palingan itu hanya pertengkaran 'suami-istri' seperti biasa."
Perkataan itu seolah-olah membuatku berpikir bahwa pertengkaran itu tidak sama dengan pertengkaran biasanya. Kamudian aku melontarkan pertanyaan lagi.
"Bang, apa yang terjadi bila papa dan mama tidak pernah akur lagi?"
Dia terdiam sesat.
"Mana aku tahu!" Jawaban itu pun mengakhiri pertanyaanku.

Pagi seperti biasanya, sempurna. Aku bermain dengna Pitbull, dia tampak lebih semangat. Aku sangat menyayanginya. Umurnya sudah 2 tahun. Saat berangkat ke sekolah adalah awal dari kesedihan yang tak pernah kubayangkan. Saat naik mobil, aku melihat anjingku mengejar kami. Laju mobil semakin cepat dan meninggalkannya di belakang. Lalu muncullah rasa khawatir ini. Rasa seperti aku tak akan pernah melihat Pitbull lagi.

"Eh, Nat, ponselmu bunyi tuh." Salah seorang temanku mengingatkanku.
"Ponselku di mana ya?"
"Tadi di tasmu deh."
"Oh. Makasih."
Sebaris pesan mengejutkanku. Hal yang paling tidak kuinginkan. Hal yang paling kubenci, yaitu kehilangan sesuatu yang amat sangat berharga. Aku bergegas menyusun barang dan pulang.
"Eh, Nes, kalau ditanya BP bialng aku permisi, ya. Aku.. ada urusan."
"Ok, Nat."

Aku pulang karena dia, anjingku, Pitbull, menghilang. Dia hialng di pagi hari. Dari beberapa tetangga yang melihatnya, katanya Pitbull tersesat. Aku takut, aku menangis. Pitbull sangat takut pada truk. Dia juga pernah tersesat dan hampir ditabrak. Aku takut hal itu terjadi lagi. 'Tuhan, kumohon lindungi Pitbull.' Sampai malam hari, papa dan mamaku serta abangku ikut mencarinya. Aku lelah bukan karena mencari Pitbull dari siang hari, tapi karena aku menangis dari siang hari.

Sesampainya di rumah, orangtuaku bertengkar lagi dan itu membuatku tambah pusing. Aku ingin semuanya kembali normal. Tapi aku tetap menangis seperti pengecut yang tidak bisa melakukan apa-apa. Aku mendengar suara pukulan dan itu membuatku takut. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku berlari mencari abangku. Abangku hanya memelukku dan terdiam.

Beberapa bulan kemudian, Pitbull tidak ditemukan. Air mataku sudah mengering. Orang tuaku berbaikan seperti semula dan berjanji tidak akan bertengkar lagi. Waktu itu, prestasiku menurun karena begitu banyak yang membani pikiranku. Orang tuaku sadar dan mulai mengintropeksi diri sendiri. Aku berjanji tidak akan menagnis hanya karena hal seperti ini lagi. Ke depannya aku akan terus melanjutkan apa yang sempat terhenti. Yah, dan sekarang dia berada di sampingku. Anjing baruku. Dia baru berumur 2 bulan. Dia jenis anjing kampung, tapi mempunyai campuran Golden Retriever. Kenalkan namanya Scooby Doo. Aku suka memakai nama dari suatu tokoh kartun. Dia menggerak-gerakkan ekornya yang menandakan mau bermain-main denganku.
"Aku pergi dulu ya, Ma!!" seruku.
"Iya. Suruh abangmu mengantarmu!"
"Ok!"
Ku temukan abangku sudah di depan rumah menungguku, lalu aku naik ke motornya. Sejujurnya aku malas mengikuti kelas renang hari ini karena hari ini adalah hari libur. Lalu tampaklah dari sudut ekor mataku yang memaksaku untuk berteriak "STOP!"
"Ada apa?"
"Lihat! Lihat!!"
Pandangan kami tertuju pada sebuah biara, tepatnya seperti gereja Katolik. Tempatnya sepi, rapi, dan di depan gereja itu terdapat tanah kosong yang luas sehingga membuatku merasa gereja ini terletak di pegunungan. Tepat di depan gerbang gereja itu, tampak seekor anjing berwarna cokelat dengan muncung hitam dan ekor yang naik ke atas. Lalu anjing itu membuat kami terkejut dengan suaranya yang persis seperti suara yang sudah kulupakan. Aku mengambil ponselku dan memotretnya.

Air mata ini tidak dapat tertahan, dia kenanganku, dia Pitbull-ku. Tapi dia bukan milikku lagi. Dia sudah dipelihara oleh orang yang jauh lebih baik. Di tempat yang hening dari keramaian yang membuatmu sesak. Waktu yang terus maju tidak dapat memutar kenanganku kembali.
"Sudahlah, Nat. Ayo kita pergi."
"Hiks... hiks... Tapi, dia?"
"Dia lebih bahagia di sana."
"Yah. Benar."
Kutinggalkan dia sekali lagi. Aku sudah punya Scooby. Kuusap air mataku, karena aku percaya aku sudah menggenggam kebahagianku.
sumber: